Senin, 25 November 2019

SUFI TRAINING CENTRE Jadikan Jabatan sebagai Sarana bukan Tujuan

Sufi Training Centre BNI 1946

Marcomm Idrisiyyah

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (QS al-An’âm [06] : 32)

Mutiara Ibriz | "Allah SWT mengingatkan untuk berhati-hati dengan dunia, tapi di sisi lain kami ini karyawan Bank yang dituntut berprestasi dan harus mencapai target," demikian tanya Diki Mubarok, S.Pd, MM peserta Sufi Training Centre (STC), kepada Syekh Muhammad Fathurahman, Sabtu (23/11/2019), di Aula Musyahadah Masjid Al Fattah Tasikmalaya. 

Pelatihan yang bertema Menemukan Berlian dalam Diri ini menjaring 24 peserta, terselenggara atas kerjasama Tarekat Idrisiyyah dengan Bank Negara Indonesia Tasikmalaya. 

Master of Trainer Syekh Muhammad Fathurahman pun menjelaskan dengan mengutip firman Allah SWT:  

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (QS al-An’âm [06] : 32)

"Memang yang namanya kesenangan duniawi itu ada dampak negatifnya bila kita tidak berhati-hati, tapi di satu sisi menjadi kebutuhan. Harta menjadi alat dan sarana untuk memberi kemanfaatan bagi orang lain," ujar Syekh Fathurahman.


Silakan Klik
DUA VARIAN RASA Gula Aren dan Kayu Secang

Maka untuk mencapai hal itu, Syekh Fathurahman yang juga Mursyid Tarekat Idrisiyyah itu memberikan tipsnya:   

Pertama mindset-nya, harta jangan menjadi tujuan tapi sebatas sarana. Kalau sudah menjadi tujuan, maka akan tergila-gila mengejar pangkat dan jabatan. Menimbukan kesombongan hingga akhirnya melalaikan kita dari ibadah.

Kedua, Dunia hanya ada di tangan saja, jangan mengendap dalam hati. Kalau dunia masuk ke hati, maka nilai-nilai kebaikan pun akan terabaikan. Materi menjadi ukuran dalam segala hal. Manusia berubah menjadi robot. 

   

Selanjutnya Syekh M Fathurahman, mencontohkan Nabi Sulaeman yang memiliki Kerajaan besar, tapi semakin dekat dengan Allah SWT. Tidak ada lagi kerajaan di dunia ini yang sehebat kerajaannya, Alam, Manusia dan Jin menjadi balatentaranya. Suatu hari ketika dia sedang blusukan, dengan mengendarai angin. Mendadak berhenti karena mendengar lantunan zikir Subhanallah dari seorang rakyat jelata yang terkesima dengan kendaraan angin Nabi Sulaeman. "Subhanallah, Maha Suci Allah!" maka seketika –atas perintah Allah SWT– angin pun terhenti. 

"Hai angin bawalah aku kepada si Fulan itu!" 

Seketika sampailah Raja Sulaeman di hadapan rakyatnya itu. Gemetar dia dibuatnya, "Ada apa, apa salahku!?"

"Kamukah yang tadi mengucapkan Subhanallah?"

"Iya ....! jawabnya dengan panas dingin.

"Wahai Fulan, andai kalimat Subhanallah, ditimbang dengan semua kekuasaanku, maka akan lebih berat kalimat Subhanallah !"

Ibroh dari kisah di atas adalah, Nabi Sulaeman tidak silau dengan Singgasana yang dia miliki. Jadi semakin mendapat rezeki semakin mengenal Allah SWT. Singkatnya, kagum dengan Sang Pemberi, bukan dengan pemberian-Nya.

Sufi Training Centre BNI 1946
Marcomm Idrisiyyah

Sufi Training Centre BNI 1946
Marcomm Idrisiyyah

Sufi Training Centre BNI 1946
Marcomm Idrisiyyah

 Sufi Training Centre BNI 1946
Marcomm Idrisiyyah

 Sufi Training Centre BNI 1946
Marcomm Idrisiyyah

 Sufi Training Centre BNI 1946
Marcomm Idrisiyyah

 Sufi Training Centre BNI 1946
Marcomm Idrisiyyah

Sufi Training Centre BNI 1946
Marcomm Idrisiyyah

Sufi Training Centre BNI 1946

Marcomm Idrisiyyah

 Kampoeng Hijrah Residence Beli rumah dapat motor

    Silakan Klik:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar