Jumat, 08 Mei 2020

Sikap ULAMA RABBANI dalam Menghadapi Wabah


قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal".  (QS At-Taubah [09] : 51).

Oleh: Syekh Muhammad Fathurahman, M.Ag,  (Mursyid Tarekat Idrisiyyah)


MutiaraIbriz | Dalam Membahas wabah Covid-19 —dan semua hal harus— melihat dari dua sisi. Harus menggunakan dua kacamata; lahir dan batin. Memperhatikan dua sisi, itulah sikap ulama Rabbani yang berpijak pada Manhaj al-Wasathi. 

Saat ini sedang mewabah (thoun), penyakit menular sekaligus mematikan. Secara spesifik  WHO dalam situsnya https : // www. who. int /   menyebutkan: COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. Ini merupakan virus baru dan penyakit yang sebelumnya tidak dikenal sebelum terjadi wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019.  
   

Silakan Klik


Kacamata Lahir

Faktanya virus itu ada. Walaupun tidak terlihat, tapi virus ini benar-benar nyata adanya. Karena tidak kasatmata maka pengecekannya menggunakan alat. Thermal scanner alias alat pemindai suhu saat ini diandalkan sebagai pendeteksi dini seseorang diduga terjangkit virus corona atau tidak. Salah satu jenis thermal scanner yang kini banyak digunakan adalah thermo gun yang berbentuk seperti pistol dan ditembakkan ke dahi. 

Di lapangan, kepanikan pun terjadi hingga muncul sikap berlebihan. Salah satu SOP-nya Physical Distancing, agar tak tertular orang harus menjaga jarak. Manusia sebagai mahluk sosial —apalagi tradisi di Indonesia yang guyub— menjadi tak mudah untuk menerapkan standar ini. Tapi, apabila ada yang bertanya, benarkah atau hoak? Jawabannya akan serempak: Benar ada dan mematikan. Bahkan, adanya wabah Covid-19 ini ternyata berdampak juga ke dunia fashion, hingga memunculkan; “Kerudung Corona.”

Menyikapi secara lahir disini, artinya dengan menggunakan standar medis (kesehatan). Pahami bagaimana cara penyebaran, masa inkubasi dan berkembangnya. Untuk mengantisipasi wabah ini dilihat dari kacamata lahir harus mengikuti protokol kesehatan tapi tidak berlebihan dan harus proporsional.

Ada tindakan pencegahan yang di lakukan kurang efektif, seperti menyemprotkan disinfektan di jalanan. Selain boros, cara seperti itu tidak membuat virus mati.  Sesuai dengan standar kesehatan dengan mengetahui pada suhu berapa derajat virus akan mati, berapa jam dia bertahan dll. Itulah pentingnya Tim kesehatan menjadi gugus terdepan dalam hal seperti ini.


Silakan Klik 👇


Kacamata Batin

Dari kacamata keimanan seorang muslim, virus tersebut adalah mahluk Allah juga. Sangat yakin  Allah mendatangkan virus dan secara hakikat Allah yang menciptakan virus. Karena manusia itu bukan robot,  ada aspek batinnya. Namun kebanyakan orang hanya melihat aspek lahirnya saja. Ada juga yang melihat dari kacamata batin, tapi hanya dari satu sisi. Kalau hanya dari satu sisi, selain tidak utuh, kebablasan dan tidak tepat sasaran. 

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal".  (QS At-Taubah [09] : 51).

Itulah keyakinan yang harus kita pegang dan kita bangun agar dalam bertindak tidak berlebihan-lebihan. Dari aspek batin harus membuat keyakinan yang kuat, Allah SWT akan melindungi. Ada pahala bila terkena wabah ini. Dari aspek lahir biarkan Tim Kesehatan yang bergerak. Jadi ada keseimbangan lahir dan batin.

Dalam hal ini, kita patut meneladani sikap Khalifah Umar bin Khaththab ra yang memilih untuk membatalkan berangkat ke Syam karena tengah dilanda wabah.  Abdurrahman bin Auf yang menjelaskan bahwa apa yang akan dilakukan Umar, persis dengan sabda Rasulullah ﷺ:

"Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya."



Silakan Klik



Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah ﷺ menyebutkan, korban meninggal karena wabah termasuk dalam kategori syahid, sebagaimana riwayat berikut ini.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الطاعون شهادة لكل مسلم  

Artinya, “Rasulullah ﷺ bersabda, tha’un syahadah (berkedudukan syahid) bagi setiap Muslim,” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Memahami hadits ini harus utuh, bukan berarti kita mencari mati. Tidak boleh sepotong-sepotong, cari mati itu dilarang. Standar kesehatannya harus dipatuhi, pelajari bagaimana cara virus itu menyerang. Bila melalui persentuhan maka salaman pun kita larang. Ini karena tidak menggunakan manhaj wasathi, maka kesimpulannya jadi mengikuti hawa nafsu. 

Adapun pengertian hadits itu, karena  Allah dan Rasul-nya mengetahui, bahwa wabah itu penderitaan yang pahit. Orang yang terkena wabah akan panik dan menyerang psikis hingga frustasi.  Orang yang terjangkiti harus dihibur. Kalau ridha akan mendapat pahala syahid, bukan mencari mati. Jangan menggerutu hingga menyalahkan takdir. Dengan sabar menerimanya, maka akan manjadi pahala. Karena kehidupan itu berpasangan ada sakit dan sehat. Jadi, jangan salah memahami fadilah. 

Termasuk berlebihan disini, sikap dari orang-orang yang tergolong: “Pengamat Akhir Zaman”. Seolah-olah kiamat akan terjadi besok, hingga menimbulkan sikap apatis. Pun sikap penyuka Teori Konspirasi, yang membuat umat Islam merasa kecil hati karena jauh tertinggal oleh kekuatan teknologi dari senjata lawan. Mereka asyik masyuk dengan “rekreasi intelektualnya”, Hingga lupa bagaimana mengatasai virus Covid-19 itu sendiri. Harusnya solusi dari ulama rabbani, menjadi perhatian dan terapan dalam menghadapi serangan wabah Covid-19 ini.  

Mudah mudahan Allah SWT memberikan kesabaran dan ketabahan kepada kita semua dalam melewati wabah ini. Apabila tertimpa wabah ini bersabarlah dan jangan saling menyalahkan. Dengan bersabar, maka meninggalnya pun tergolong syahid (musyahadah: menjadi saksi). Insya Allah, berkah dari wabah ini justru akan memunculkan sebuah tatanan dunia baru, sebagaimana bumi mereset dirinya sendiri.  Alam kehidupan akan memunculkan peradaban baru yang wasathi, Harmonis.  
Silakan Klik
Lengkapi Kebutuhan Anda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar