Rabu, 04 Maret 2020

Gairah Hidmah Abu Hurairah

Kucing | Ilustrasi

Meski tergolong singkat bersama Nabi ﷺ, tapi beliau merupakan sahabat yang paling banyak banyak meriwayatkan hadis. Apa arti sebenarnya dari Abu Hurairah? Apakah sebatas penyayang kucing?



MutiaraIbriz | Amr bin Ali al Fallas mengatakan, Abu Hurairah ra datang ke Madinah pada tahun terjadinya perang Khaibar pada bulan Muharram tahun ke-7 H.  

Para ulama sejarah bersepakat bahwa Nabi Muhammad ﷺ wafat pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal, tahun 11 H atau 8 Juni 632 M. Nabi Muhammad ﷺ meninggal dunia di usia 63 tahun, lebih 4 hari. 

Jadi Abu Hurairah ini hidup bersama Nabi ﷺ,  11-7 = 4 tahun. Humaid al Himyari berkata, "Aku menemani seorang sahabat yang pernah menemani Rasulullah ﷺ selama empat tahun sebagaimana halnya Abu Hurairah ra.”

Masya Allah, beliau Abu Hurairah ra ini masa hidupnya bersama nabi ﷺ termasuk singkat, empat tahun. Tapi, sebagaimana kata Umar bin Khaththaab ra, Di iwayatkan dari Nafi’ Rahimahullah bahwa saat Abu Hurairah ra wafat, aku dan Ibnu Umar ra ikut mengiringi jenazah, dan ibnu Umar ra tak lepas mendoakan Abu Hurairah ra lalu ia berkata, “Orang ini adalah orang yang paling hafal hadist Rasulullah ﷺ“

Asal Usul

Abu Hurairah ra seorang sahabat yang lahir di daerah Ad Daus Yaman, daerah yang mulanya selalu menentang risalah kenabian Muhammad ﷺ, sampai datanglah seorang sahabat bernama Thufail bin Amru Ad Dausi  ra yang pernah bertemu Nabi Muhammad ﷺ dan mengikrarkan islamnya sebelum hijrahnya Nabi ﷺ ke Madinah.

Tufail bin ‘Amru Ad Dausi yang mendakwahkan Islam kepada kaumnya Ad Daus, sayangnya tidak ada dari yang menerima Islam kecuali Abu Hurairah ra.

Setelah dibaiat, Nabi  ﷺ bertanya kepada Abu Hurairah, “Dari mana asalmu?” Abu Hurairah ra menjawab, “Aku berasal dari Ad Daus”, Rasulullah ﷺ  mengatakan, “Sungguh aku dulu tidak menyangka ada kebaikan di  Daus”.

Hafalannya Teruji

Sahabat yang mulia ini terkenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan hadist, tercatat sekitar lebih dari 5000 hadist yang di riwayatkan lewat jalurnya.

Marwan bin Hakam pernah menguji hafalan Abu Hurairah. Marwan memintanya untuk menyebutkan beberapa hadits, dan sekretaris Marwan mencatatnya. Setahun kemudian, Marwan memanggilnya lagi dan Abu Hurairah ra menyebutkan, tanpa tertinggal satu huruf.

Ahlus Suffah

Abu Hurairah yang merupakan pendatang  di kota Madinah. Dia seorang sahabat yang sangat miskin, keputusan ia berhijrah dari Yaman ke Madinah meyebabkan kehilangan hartanya di Yaman. Kaum muslimin menyediakan tempat untuk tamu Allah yang  tidak mempunyai harta dan keluarga. Mereka di tempatkan di masjid, seraya belajar Islam langsung kepada Rasulullah ﷺ.

Ahlu suffah merupakan sebutan untuk mereka para penghuni masjid Nabawi saat itu. Sahabat Abu Hurairah merupakan orang yang paling fakih di antara ahlu Suffah yang lain, karena ia paling sering hadir di majelis Rasulullah ﷺ. 

Ahlu Suffah mendapatkan makanan jika Rasulullah ﷺ mendapatkan makanan. Mereka juga tak makan jika keluarga Rasulullah ﷺ tak makan.  Maka laparnya Ahlu Suffah berarti laparnya Rasulullah serta keluarganya ﷺ. Kelaparan sudah sering dialami oleh Abu Hurairah. 

Panjang Usia

Sahabat yang mulia ini diberikan umur yang panjang oleh Allah SWT di riwayatkan, beliau wafat di umur 78 tahun, maka  jarak dari wafatnya Rasulullah ﷺ  dengan wafatnya Abu Hurairah sekitar 47 tahun. Hafalannya yang banyak, karena itu beliau sangat sering mengajarkan ummat.

Abu Hurairah berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman. Ia diperkirakan lahir 21 tahun sebelum hijrah, dan sejak kecil sudah menjadi yatim. Ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti Ghazawan, yang kemudian setelah masuk Islam dinikahinya. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdus-Syams (hamba matahari) dan ia dipanggil sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan memelihara kucing. 

Kucing Pemburu

Diriwayatkan atsar oleh Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang mauquf hingga Abu Hurairah. Abdullaah bin Raafi' berkata, "Aku bertanya kepada Abu Hurairah, "Mengapa engkau bernama kuniyah Abu Hurairah?" 

Ia menjawab, "Apakah yang kau khawatirkan dariku?" 

Aku berkata, "Benar, demi Allah, sungguh aku khawatir terhadapmu." 

Abu Hurairah ra berkata, "Aku dulu bekerja menggembalakan kambing keluargaku dan di sisiku ada seekor kucing kecil (Hurairah). Lalu ketika malam tiba aku menaruhnya di sebatang pohon, jika hari telah siang aku pergi ke pohon itu dan aku bermain-main dengannya, maka aku diberi kuniyah Abu Hurairah (bapaknya si kucing kecil)."

Menurut Syekh Muhammad Fahurahman, M.Ag, selain karena cinta anak kucing tadi, nama Abu Hurairah juga bermakna kesigapannya mencatat dan menghafal perkataan Nabi  ﷺ , seperti kesigapan seekor kucing yang tengah menangkap buruannya. Perhatikan kucing yang sedang memburu tikus: Kuku keluar dari sarungnya mata tajam fokus pada buruan. Ekornya berputar bagai turbin yang siap meluncur. Bergerak dalam senyap, langkahnya penuh perhitungan. Sejurus mencengkeram kuat dengan gigi taringnya, hingga hewan buruan itu didapatkannya.

Sejatinya, itulah karakter seorang murid, senanitasa dalam kondisi siaga. Meski tergolong singkat bersama Nabi ﷺ tapi bisa mengejar ketertinggalannya. Jadi, kemiskinan, suku, silsilah atau latar belakang, bahkan usia sekali pun bukan alasan untuk berhenti dari mengejar prestasi. Semoga kita bisa meneladani sahabat Abu Hurairah ra. 

(Salman al Farizi)
#SelfReminder
       Silakan Klik
Lengkapi Kebutuhan Anda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar